Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2016

Vitamin A Untuk Anak Kita

VITAMIN A UNTUK ANAK KITA




Narasumber: Elly Risman, Psi.
(Direktur dan Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati)
Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak kita saat ini membutuhkan Vitamin A (Ayah) yang memiliki peranan sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Ayah…
Engkaulah nahkoda, penentu Garis Besar Haluan Keluarga, engkau yang menentukan kemana keluarga kita akan kau bawa.
Engkau bukan hanya pencari rizki yang penuh berkah, yang menyediakan makanan lezat dan pakaian yang hangat, serta rumah dan isinya yang tak mudah berkarat, bagi kami kau adalah pembimbing anak dan istri yang hebat.

Ayah...
Engkau adalah pembuat kebijakan dan peraturan, engkau pula yang menentukan standar keberhasilan.

Ayah..
Engkau senantiasa melakukan pemantauan dan perawatan terhadap kami dan harta benda yang kau titipkan.

Ayah..
Luangkan waktumu lebih banyak lagi ya. Obrolan sederhana yang kau bangun dengan anak kita, membuat ia menjadi anak yang:
- Tumbuh menjadi orang dewasa yang suka menghibur.
- Punya harga diri yang tinggi.
- Prestasi akademis di atas rata-rata, dan
- Lebih pandai bergaul.

Ayah lain yang kurang ngobrol dan bercengkrama dengan anak, ternyata menyebabkan anak perempuannya:
- Cenderung mudah jatuh cinta dan mencari penerimaan dari laki-laki lain.
- 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak diluar pernikahan.
- Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
- Cenderung lebih mudah bercerai.

Ternyata hal ini berlaku pada anak perempuan dari latar belakang sosial ekonomi apapun.
Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya:
- Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.
- Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda.
- Cenderung join a gang, dan
- Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa.
Ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure.

Ayah…
Ingat yuk peran kita sebagai orangtua; anak itu AMANAT; kita mendapatkan tugas dari Allah untuk mengasuh dan membesarkan anak dengan baik dan benar. Sebab itu butuh perjuangan (pikir, rasa, jiwa, tenaga, waktu dan biaya).

Ayah…
Yuk pimpin keluarga dengan membuat Visi Pengasuhan bersama Ibu. Visi membuat Ayah dan Ibu lebih mudah mengayuh bahtera keluarga bersama-sama.

Ayah…
Mari kita terus perbaiki pola pengasuhan selama ini. Anak kita perlu mendapat validasi dari kita agar ia tidak perlu mencari dari orang lain. Ia membutuhkan 3P:
- Penerimaan.
- Penghargaan, dan
- Pujian.

Ayah..
Mari kita bedakan pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan kita, sebab:
- Otak mereka berbeda.
- Tugas dan tanggung jawab mereka kelak dewasa juga berbeda.
Sehingga, tujuan pengasuhannya pun berbeda. Anak laki-laki kita kelak mengemban tanggungjawab yang lebih besar daripada anak perempuan kita. Selain menjadi hamba yang bertakwa dan berperan di masyarakat, anak laki-laki kita kelak akan menadi pendidik dan pengayom keluarga.

Ayah…
Penting sekali vitamin A bagi anak; bukan hanya meluangkan ‘waktu lebih’, tapi kuantitas dan kualitas berjalan seimbang. Tidak hanya terlibat secara fisik, tapi melakukan authoritative parenting (kasih sayang tinggi – tuntutan tinggi, yakni orangtua memberikan dorongan, dukungan, perhatian dan menawarkan perhatian tanpa kekerasan).

Ayah…
Biasakan tanya perasaan anak kita setiap hari ya, itu berarti kau sedang membangun kekuatan emosi dan kedekatan batin dengan mereka. Ingat PERASAAN ya Yah...!
Biarkan dirimu menjadi tempat curhat anak-anakmu, tempat mereka meluapkan perasaannya. Kalian bisa ngobrol tentang apa saja, tentang hal-hal yang pribadi, tentang hal yang menyenangkan, tentang kesulitan yang dialami, tentang hal yang yang dianggap tabu dan menjadi tantangan anak zaman sekarang.

Ayah…
Berikan pondasi bagi anak-anakmu agar kelak mereka kuat dan mampu berdiri sendiri dengan arif dan disayangi banyak orang.

Ayah..
Peranmu tak tergantikan untuk membantu Ibu membesarkan anak yang sehat dan bahagia, yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan kestabilan Negara.
Save our children
Yuuuuk dibagikan kepada para ayah

Negeri Tanpa Ayah

NEGERI TANPA AYAH

Majelis Iman Islam / 10 jam yang lalu

Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN

1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola

2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar 'membuat' anak

3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi

4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja

5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah

6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab
sunglasses emotikon AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya

9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya

10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya

11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu.
 Pantaslah negeri kita dicap fatherless country

12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?

13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi

14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya

15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli

16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH

17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak

18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya

19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi

20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut

22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid

23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH

24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan

25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid

26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya

27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus
mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya

28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah' tapi AYAH 'penjaga sekolah'

29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya

30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak

31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika

32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama

33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi

34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH

35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.
Salam bahagia

(bendri jaisyurrahman, Twitter @ajobendri)
Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Resume Bu Elly Risman " Pola Asuh Anak yang Ibunya bekerja"

Bagi Ayah Bunda yang tadi pagi tidak sempat menyimak Bunda Elly Risman berikut Resumenya ya...

Resume Indonesia Morning Show NET TV

🌺Pola Asuh Anak yang Ibunya Bekerja🌺
Oleh: Ibu Elly Risman, Psi
Rabu, 24 Februari 2016

Yang hilang dari ibu bekerja adalah:

1. Attachment (kelengketan). Bukan dari segi fisik melainkan dari jiwa ke jiwa. Dengan kurangnya attachment ini, maka rangsangan ke otak juga berkurang. Saat discan, anak dengan attachment yang cukup akan lebih berwarna dibandingkan yang kurang.

2. Waktu. Waktu terbagi dua yaitu real time dan moment. Moment anak mulai berjalan, mulai bicara. Ada kebutuhan anak yang tidak dapat dipenuhi oleh ibu di sini.

3. Komunikasi. Saat anak beranjak dewasa, komunikasi biasanya lebih banyak menggunakan media HP. Tidak ada ekspresi yang bisa ditangkap.

Kita harus menyadari tiga poin yang hilang tersebut. Otak akan bekerja sesuai dengan kebiasaan terbentuk. Pada ibu yang bekerja, dalam otaknya mau tidak mau porsi pikirannya akan lebih didominasi oleh masalah pekerjaan. Akhirnya porsi anak juga akan jadi berkurang secara otomatis. Switching harus didorong oleh kesadaran yang besar, dukungan keluarga, dan upaya dari orang yang bersangkutan.

Bagaimana menyiasatinya?

1. Attachment. Saat pulang, ambillah jarak antara pekerjaan dengan tanggungjawab sebagai ibu/ayah. Lepaskan semua beban pekerjaan di tempat kerja, entah itu tugas yang masih belum terselesaikan atau kemacetan di jalan yang membuat stres. Kita harus selalu ingat bahwa ketika diamanahi seorang anak, maka kita bertanggung jawab penuh pada Allah. Gunakan waktu untuk lebih banyak mengobrol, memeluk, membaca bahasa tubuh, dan mendengarkan perasaannya. Ini bukan masalah quality time versus quantity time. Tidak akan mungkin ada quality time tanpa ada quantity time.

2. Komunikasi. Harus pandai membaca bahasa tubuh dan menebak perasaannya agar anak merasakan adanya penerimaan.

  • 30 menit sebelum sampai rumah, kita harus fokus. Tinggalkan semua pikiran tentang gadget. Camkan dalam hati, ‘anakku sudah menunggu di rumah, anakku yang merupakan titipan dari Allah, anakku bisa saja sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya, saya harus memenuhi atau membayar waktu kala tidak berada di sampingnya.’ 
  • Jika tubuh terlalu lelah sedangkan anak terlalu cranky, beri batasan pada anak, ‘Maaf ya, Nak. Ibu/Ayah capek, kalau kamu begitu terus, ibu/ayah bisa marah, sebentar ya.’ Lalu usahakan untuk cooling down diri sendiri, bisa dengan shalat, mandi, atau hal lainnya. Pikirkan lagi dalam-dalam bahwa hutang waktu pada anak harus dibayar.
  • Jika amat terpaksa menggunakan baby sitter, maka camkan dalam hati bahwa dia hanyalah asisten. Kita juga harus telusuri riwayat baby sitter dengan baik. Bagaimana latar belakang keluarganya? Pola asuh ayah dan ibunya? Karena secara langsung akan memengaruhi caranya merawat anak kita. Jangan lupa pula untuk cek HPnya untuk mengetahui adanya pornografi atau tidak. Hal yang terakhir adalah poin yang kerap terlewatkan pada kebanyakan keluarga saat ini.
Wallahu'alam

Kamis, 05 Desember 2013

Menumbuhkan kreativitas anak : Pentingnya memanfaatkan otak kanan

Untuk menghadapi dan mengarungi kehidupan yang semakin ketat dalam persaingan, ternyata tak cukup hanya dengan intelegensia saja. Kreativitas pun tak kalah pentingnya. Nah, apa saja yang bisa kita lakukan untuk menciptakan anak yang kreatif?
Dalam sebuah seminar tentang pendidikan anak di Jakarta terungkap bahwa hasil penelitian menunjukkan siswa Indonesia kelas empat SD ternyata berada pada peringkat paling rendah di Asia Timur. “Mereka hanya mampu memahami 30 persen dari materi bacaan dan sulit menjawab soal-soal uraian yang memerlukan penalaran,” ungkap Dr Seto Mulyadi,Psi,M.Si sebagai salah satu pembicara dalam seminar tersebut.
Kemajuan jaman yang cepat membawa berbagai persoalan dimana pemecahannya tak cukup hanya dengan bermodalkan intelegensia tinggi semata, namun juga harus didukung oleh kreativitas yang tinggi.
Anak berusia di bawah 3 tahun berada pada puncak kreativitasnya dan mulai usia 4-5 tahun  atau pada usia sekolah tingkat kreativitas anak langsung menurun drastis.
Sejak dalam kandungan seorang anak secara otomatis telah memulai tahap pertama dalam perjalanan belajarnya. Pada usia nol sampai 5 tahun seorang anak berada pada masa kritis. Di usia tersebut diibaratkan seperti sebuah ’sponge’ yang akan menyerap apa saja dari lingkungannya baik berupa informasi atau meniru gerak serta perilaku yang menarik baginya. “Mereka akan menjadikan orang tua atau guru sebagai model utamanya,” kata Kak Seto.
BELAHAN OTAK KANAN
Dalam belajar kita diharapkan dapat menggunakan kedua belahan otak, kanan dan kiri secara seimbang, pasalnya, kedua belahan otak tersebut daling bergantung dan mendukung satu sama lain. ” Apabila tidak digunakan secara seimbang maka belahan otak yang jarang digunakan akan mengalami hambatan-hambatan dalam menjalankan fungsinya,” ujar Dra Rose Mini A.P, M.Psi, yang biasa dipanggil Romi pembicara lain dalam seminar tersebut.
Bisa jadi hal inilah yang menjadi penyebab munculnya kenyataan buruk yang dialami anak-anak. Ini terjadi karena dalam sistem belajar negara kita cenderung lebih sering menggunakan belahan otak kiri sementara belahan otak kanan sangat jarang digunakan malah terkesan diabaikan sehingga menjadikan anak-anak kita kurang kreatif. Dengan kata lain mereka hanya dituntut untuk berprestasi dari sisi akademik yang mengandalkan intelegensia saja. Ditambah lagi di sekolah-sekolah para guru lebih cenderung menekankan pada pelajaran menulis, menghitung, menghafal yang justru menjadikan anak tak berpikir kreatif. Karena fungsi imajinasi yang terletak di belahan otak kanan diabaikan.
Salah satu fungsi belahan otak kanan adalah mengontrol hal-hal yang bersifat non-verbal, holistik, intuitif serta imajinatif. “Intuisi dan imajinasi adalah hal-hal yang dibutuhkan dalam kreativitas yaitu kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi atau mengembangkan,memperkaya dan merinci suatu gagasan,” jelas Mbak Romi
Ada banyak alasan mengapa kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Diantaranya karena kreativitas sangat berpengaruh dalam kehidupan anak sehari-hari dan terutama untuk mempersiapkan anak menghadapi era globalisasi . Kreativitas juga memiliki kegunaan lain:
- Membantu anak mengaktualisasi atau menunjukkan dirinya
- Memungkinkan anak berpikir kreatif untuk melihat berbagai kemungkinan pemecahan sebuah masalah.
-Memberikan kepuasan pada anak yang bisa bersibuk diri secara kreatif
- Memungkinkan seorang anak meningkatkan kualitas hidupnya.
Setiap orang memiliki potensi untuk menjadi kreatif, karena kreativitas sudah dimiliki seorang anak sejak lahir. Tergantung bagaimana mengembangkannya. Para pendidik yang terdiri dari para orang tua dan para guru harus bisa bekerja sama untuk dapat mengembangkan kreativitas anak. Misalnya bagi orang tua dengan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak untuk mengekspresikan kreativiatsnya’” saran Kak Seto.
Guru juga bertanggung jawab dalam mengembangkan kreativitas anak misalnya dengan mencoba menghormati anak didiknya sebagai individu sekaligus menghargai keunikan anak tersebut. Apabila semua dilaksanakan dengan baik maka anak akan memiliki kebebasan mengekspresikan ide-ide kreatifnya dan bila tiba waktunya terjun ke masyarakat mereka akan jauh lebih kreatif karena telah banyak memiliki pengalaman dan pelajaran sebelumnya.
Selain peran serta orang tua dan guru, terdapat empat unsur yang saling berkaitan dan menentukan dalam proses perkembangan sebuah kreativitas yaitu :
1. Pribadi
Ini berkaitan dengan kemampuan individu untuk menciptakan sesuatu yang baru, umumnya mereka yang kreatif memiliki sifat mandiri
2. Press
Kekuatan yang mendorong baik dari diri sendiri atau lingkungan, ini diperlukan agar anak bisa kreatif. Karena itu perlu diciptakan lingkungan yang bisa memupuk sifat kreativitas anak.
3. Proses
Karena kreativitas adalah sebuah proses, maka orang tua dan guru harus berusaha melihat lebih jauh dan lebih mendalam pada proses si anak dalam mencapai tujuan dibandingkan dengan sekedar menginginkan hasil ( produk) secepatnya.
4. Produk
Suatu produk baru disebut kreatif apabila mendapat pengakuan (penghargaan) dari masyarakat pada saat tertentu. Selain itu terdapat dua faktor yang mempengaruhi kapasitas kreativitas sehingga setiap orang akan memiliki tingkat kreativitas yang berbeda. Kedua faktor itu adalah faktor yang timbul secara alami/bawaan yang berasal dari genetik dan faktor pengalaman /lingkungan.
Untuk menumbuhkan kreativitas anak maka orang tua atau guru dapat memberikan rangsangan, diantaranya;
1. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman sehingga anak bisa bebas mengungkapkan pendapat, perasaan dan sikapnya.
2. Orang tua dan guru harus menghormati anak sebagai individu yang memiliki keunikan sendiri.
3. Orang tua atau guru jangan hanya menghargai prestasi anak dari sisi intelegensia ( ranking)
4. Orang tua atau guru harus menjadi model atau panutan bagi anak.
5. Orang tua atau guru harus menghargai kreativitas dan keingintahuan anak akan sesuatu. Jadi, sebuah keharusan bagi orang tua atau guru untuk banyak belajar, mengikuti semua perkembangan yang ada agar dapat mengimbangi rasa ingintahu anak.
6. Orang tua atau guru harus dapat menunjang kegiatan anak.
7.Orang tua atau guru dapat menajadikan anak mandiri dan dapat mengambil keputusan sendiri.
8 Memberikan pujian pada anak bila mereka dapat melakukan sesuatu dengan baik dan mulai mengurangi hukuman.
9.Sering berkomunikasi dua arah dengan anak. Gunakan teknik bertanya, sehingga memancing diskusi dengan merangsang rasa keingintahuan anak.
Sumber :  Tabloid Nova

Jumat, 18 Oktober 2013

Gaya Belajar Anak Tidak sama...!!!!


Ibu mungkin pernah memperhatikan si Kecil sangat aktif berekspresi melalui tari saat mendengar musik atau ia dapat berhitung lebih cepat dibanding anak-anak sebayanya? Pernahkah Ibu menyadari si Kecil dapat menceritakan kembali cerita yang ia dengar walau hanya baru sekali Ibu ceritakan? Tiap anak memiliki kelebihan dan gaya belajar yang berbeda. Sudahkah Ibu mengenali gaya belajar si Kecil? Dengan mengenali gaya belajarnya akan memudahkan si Kecil belajar lebih optimal!


Apa saja gaya belajar si Kecil?

1. Tipe verbal 
Si Kecil lebih sensitif terhadap suara, ritme, kata-kata dan menikmati ‘strory telling’ serta menulis. Si Kecil cinta pada buku, puisi, humor dan gemar mengerjakan puzzle dan memecahkan teka-teki.
Saran untuk Ibu:
- bacakan si Kecil cerita, dengarkan dengan perhatian pertanyaannya atau saat si Kecil menceritakan pengalamannya. Berikan buku-buku bacaan dan kertas untuk si Kecil belatih menulis. Ajaklah ia ke perpustakaan dan toko buku untuk memilih buku bacaan dan berikan mainan jenis scrabble.
2. Tipe logikal 
Beberapa permainan menyelesaikan masalah dan bermain dengan pola serta percobaan akan menarik perhatian si Kecil. Ia memiliki kemampuan logik yang baik dan banyak bertanya mengenai hal-hal yang logis.
Saran untuk Ibu:
- biarkan si Kecil berksperimen, ajak si Kecil mengikuti langkah-langkah membuat kue, membuat warna baru dengan mencampur warna dasar, ajaklah mengatur meja, memilih baju atau mengatur meja. Permainan yang cocok untuk anak dengan gaya belajar ini adalah kartu yang dimainkan dengan cara menyamakan warna atau angka pada kartu, dan permainan catur.
3. Tipe visual 
Gaya belajar si Kecil lebih menyukai yang bernuansa ‘seni’, seperti membuat pola dan memerlukan stimulasi visual.
Saran untuk Ibu:
- biarkan si Kecil berkreasi dengan berbagai kerajinan tangan dan seni rupa. Berikan si Kecil kesempatan untuk menata kamarnya. Sediakankah peralatan menggambar dan spidol berbagai warna serta permainan berupa kartu dan gambar.
4. Tipe pemusik 
Si Kecil menyukai permainan musik, dan bernyanyi., senang mendengarkan suara orang dan alam sekitarnya serta mudah mempelajari sesuatu yang berirama atau berkaitan dengan musik.
Saran untuk Ibu
- Biarkan si Kecil bernyanyi mengikuti irama musik dan libatkan kegiatan bernyanyi bersama
5. Tipe fisikal
Anak- anak ini sangat aktif dan mengekspresikan dirinya melalui gerak: menari, dan bermain dalam gerak fisik, lebih mudah mempelajari hal-hal dengan menyentuh dan merasakan tekstur.
Saran untuk Ibu
- libatkan si Kecil dalam gerak dan tari atau aktivitas fisik lainnya, jalan, jogging dan bersepeda.
6. Tipe ekstrovert 
Sosialiasi si Kecil sangat baik, ia dapat ‘membaca’ situasi dan pemimpin yang baik, mudah bekerja sama.
Saran untuk Ibu:
- Dukunglah anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok, berdiskusi dan memecahkan masalah.
7. Tipe introvert 
Si Kecil menyukai kerja mandiri, dan cenderung menyukai kerja sendirian.
Saran untuk Ibu:
- Berikan si Kecil waktu untuk belajar dan bermain sendirian. Dukunglah si Kecil untuk membuat sesuatu yang dapat dinikmati keluarga dan dukunglah ia untuk membuat jurnal harian mengenai kegiatannya.
Setiap anak adalah unik, dan berbeda. Bila Ibu dapat memahami keunikan dan gaya belajar tiap anak, serta mendukung dan mengarahkan sesuai karakternya, tentu si Kecil dapat mengeksplorasi dan belajar lebih banyak lagi.

Sumber: www.ibudanbalita.com